83 Menampilkan perilaku hormat terhadap orang tua. · Melalui penjelasan dari guru siswa dapat menyebutkan perilaku terpuji . · Perilaku hormat pada orang tua,sepertiyang terdapat pada dongeng disebutkan malin adalah sosok anak yang durhaka pada orang tua,jadi perilaku tersebut tidak boleh di tiru. StandarKompetensi : Membiasakan perilaku terpuji. Guru adalah orang tua kita di sekolah. Guru mengajar, mendidik dan membimbing kita. Tujuannya agar kita pandai dan berbudi luhur. Guru mengajarkan ilmu dan sopan santun pada hormat dan sopan kepada guru. Wujud perilaku sopan santun terhadap tetangga antara lain : Bianganasarawa Wolio merupakan catatan-catatan khusustentang perangai yang terpuji dari seseorang, masih sangat memperhatikan tatakrama terutama yang berkaitan dengan penghormatan terhadap orang tua atau yang dituakan.Perilaku menghormat terhadap orang tua ini dapat terimplementasi lewat sapaan, sikap berbicara dan bahasa yang digunakan. REPUBLIKACO.ID, JAKARTA -- Islam sangat menekankan adab sopan santun dan cara bersikap (akhlak) yang benar dalam berhubungan dengan orang lain tanpa memandang usia, jenis kelamin, warna kulit, agama, atau keyakinan. Islam begitu memperhatikan tentang hubungan dengan sesama. Bertangggungjawab merupakan salah satu contoh perilaku terpuji, Tanggung jawab adalah suatu sikap yang mencerminkan suatu perilaku atau sikap yang ditunjukan oleh seseorang yang masih berbuat dan bertingkah laku sesuai dengan kewajiban yang diembangnya dan menyadari akan perilaku dan sikap yang ditunjukan. Tujuanpenulisan makalah ini adalah: 1. Agar pembaca dapat memahami tentang arti dan pentingnya akhlak terhadap diri sendiri. 2. Agar kita sebagai umat muslim senantiasa berakhlak baik dalam hal apapun karena Allah SWT menciptakan kita pada dasarnya untuk menjadi kholifah di bumi. 3. . Pengertian Perilaku Terpuji35 Contoh Perilaku Terpuji dalam Kehidupan Sehari-hariContoh Perilaku Terpuji Jujur dalam Kehidupan Sehari-hariContoh Perilaku Terpuji Bertanggung Jawab dalam Kehidupan Sehari-hariContoh Perilaku Terpuji Amanah dalam Kehidupan Sehari-hariContoh Perilaku Terpuji Suka MenolongContoh Perilaku Terpuji Berbakti Kepada OrangtuaContoh Perilaku Terpuji Rendah HatiMengapa kita perlu menerapkan perilaku terpuji? Pengertian Perilaku Terpuji Perilaku terpuji adalah tindakan atau perilaku yang dianggap baik, bermoral, dan memiliki nilai-nilai positif. Perilaku terpuji melibatkan sikap, tindakan, dan interaksi yang mencerminkan nilai-nilai moral, etika, dan sosial yang diakui secara luas. Ini adalah perilaku yang dihargai dan dianggap sebagai contoh yang baik dalam masyarakat. Perilaku terpuji mencerminkan karakter yang baik dan memiliki dampak positif pada diri sendiri, orang lain, dan masyarakat secara keseluruhan. Beberapa contoh perilaku terpuji termasuk Kejujuran Menyampaikan kebenaran, mematuhi prinsip-prinsip etika, dan menghindari kebohongan. Kehormatan Memperlakukan orang lain dengan rasa hormat, menghargai hak-hak mereka, dan menjaga martabat mereka. Kebajikan Memiliki sifat-sifat baik seperti kebaikan hati, belas kasihan, keramahan, dan kedermawanan. Kesopanan Menunjukkan perilaku sopan dan menghormati etiket sosial dalam berinteraksi dengan orang lain. Penghargaan Menghargai usaha dan prestasi orang lain, memberikan pengakuan yang pantas, dan memuji keberhasilan mereka. Kerjasama Bekerja sama dengan orang lain, berbagi pengetahuan, dan membantu mencapai tujuan bersama. Kesetiaan Menjaga komitmen, mempertahankan hubungan yang kuat, dan setia pada nilai-nilai dan orang yang penting dalam kehidupan kita. Keberanian moral Membela kebenaran, mempertahankan prinsip-prinsip yang benar, dan melawan ketidakadilan. Keteladanan Menjadi contoh yang baik bagi orang lain dengan perilaku yang konsisten dan integritas yang tinggi. Tanggung jawab Mengambil tanggung jawab atas tindakan dan keputusan kita sendiri, serta menerima konsekuensi dari tindakan kita. Perilaku terpuji adalah hal yang dihargai dan diupayakan oleh individu untuk membangun hubungan yang baik, menciptakan lingkungan yang harmonis, dan membentuk karakter yang baik dalam masyarakat. Berikut adalah 35 contoh perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari Jujur dalam menyampaikan informasi dan menghindari kebohongan. Menghormati orang lain dan menghargai perbedaan pendapat. Membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Menerima tanggung jawab atas tindakan dan keputusan pribadi. Menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada orang lain. Menghormati hak-hak dan privasi orang lain. Memiliki sikap empati dan peduli terhadap perasaan orang lain. Menjaga rahasia orang lain dan tidak menyebarkannya. Menjaga komitmen dan janji yang telah diberikan. Menghormati orang tua dan menghargai nasihat mereka. Berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain. Menghargai waktu orang lain dan menghormati jadwal yang telah disepakati. Mengakui kesalahan dan meminta maaf jika melakukan kesalahan. Menjaga sikap sopan dan menghormati etiket sosial. Menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Menghormati budaya dan tradisi yang ada di masyarakat. Menerima kritik dengan sikap terbuka dan belajar dari pengalaman. Menghargai hak-hak hewan dan lingkungan alam. Menghormati peraturan dan hukum yang berlaku. Menolong orang yang membutuhkan bantuan, seperti lansia, anak-anak, atau orang dengan kebutuhan khusus. Bersikap sabar dalam menghadapi tantangan atau kesulitan. Menghargai waktu sendiri dan orang lain dengan tidak menyebabkan keterlambatan. Menjaga keselamatan diri dan orang lain, seperti patuh pada aturan lalu lintas. Menghargai pendapat orang lain dan tidak memaksakan pandangan sendiri. Memiliki rasa disiplin dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. Menjaga kesetiaan pada pasangan, keluarga, atau teman dekat. Mengutamakan kebaikan bersama daripada kepentingan pribadi. Memberikan dukungan moral kepada orang lain dalam situasi sulit. Membantu merawat dan menjaga kebersihan rumah atau tempat kerja. Berperilaku ramah dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain. Menghargai pendidikan dan mempromosikan nilai-nilai edukasi. Menjaga kesehatan tubuh dan pola hidup sehat. Menghormati usaha dan pencapaian orang lain, serta memberikan dorongan yang positif. Menerima perbedaan dan tidak melakukan diskriminasi terhadap ras, agama, suku, atau gender. Perilaku-perilaku di atas adalah contoh-contoh perilaku terpuji yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh Perilaku Terpuji Jujur dalam Kehidupan Sehari-hari Berikut adalah beberapa contoh perilaku terpuji jujur dalam kehidupan sehari-hari Jujur dalam menyampaikan pendapat atau masukan pada diskusi kelompok. Jujur saat ditanya tentang pendapat atau preferensi pribadi. Jujur dalam melaporkan kejadian atau insiden yang terjadi. Jujur dalam menjalani tes atau ujian tanpa melakukan kecurangan. Jujur dalam melaporkan kesalahan yang telah dilakukan. Jujur dalam memberikan feedback atau evaluasi kepada orang lain. Jujur dalam menjalankan tugas atau tanggung jawab yang diberikan. Jujur dalam mengakui jika tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan tertentu. Jujur dalam memberikan informasi yang akurat dan benar kepada orang lain. Jujur dalam menghadapi konsekuensi dari tindakan atau keputusan yang telah diambil. Jujur dalam melaporkan pencurian atau kehilangan barang milik orang lain. Jujur dalam memberikan alasan atau penjelasan yang jelas dan benar. Jujur dalam menjalani hubungan interpersonal, seperti jujur dalam komunikasi dengan pasangan, keluarga, atau teman. Jujur dalam mengungkapkan perasaan atau emosi yang sesuai. Jujur dalam menghargai batasan waktu yang telah disepakati. Jujur dalam menyampaikan prestasi atau keberhasilan yang telah diraih tanpa membesar-besarkan atau meremehkannya. Jujur dalam menjaga kepercayaan orang lain dengan tidak menyebarkan gosip atau informasi yang tidak benar. Jujur dalam berbisnis dengan tidak menipu pelanggan atau melakukan praktik yang tidak etis. Jujur dalam mengungkapkan harapan atau kebutuhan kepada orang lain. Jujur dalam menyampaikan permintaan maaf dan mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Perilaku jujur adalah salah satu bentuk perilaku terpuji yang sangat penting dalam membangun hubungan yang sehat dan memperkuat integritas pribadi. Contoh Perilaku Terpuji Bertanggung Jawab dalam Kehidupan Sehari-hari Berikut adalah beberapa contoh perilaku terpuji bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari Bertanggung jawab atas pekerjaan yang diberikan, melakukan tugas dengan penuh dedikasi dan kualitas yang baik. Mengelola waktu dengan baik dan memenuhi tenggat waktu yang telah ditentukan. Mengakui dan memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan tanpa menyalahkan orang lain. Menghormati dan menjaga barang milik pribadi atau milik orang lain dengan baik. Menjaga janji yang telah diberikan dan komitmen yang telah diucapkan. Bertanggung jawab dalam mengelola keuangan pribadi dengan bijaksana. Menghadapi dan menyelesaikan masalah dengan sikap dewasa dan tanggap. Menghormati peraturan dan tata tertib yang berlaku di lingkungan tempat tinggal, sekolah, atau tempat kerja. Bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan lingkungan, termasuk merapikan tempat tinggal atau tempat kerja. Menjaga kesehatan diri dengan mengikuti pola hidup sehat, seperti makan dengan gizi seimbang dan berolahraga secara teratur. Bertanggung jawab dalam menjaga hubungan interpersonal, seperti menghormati hak-hak dan privasi orang lain. Menghargai dan menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain, seperti mematuhi peraturan lalu lintas. Bertanggung jawab dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan memilah sampah dengan benar. Mengambil inisiatif untuk membantu orang lain atau masyarakat dalam memenuhi kebutuhan mereka. Bertanggung jawab dalam memperoleh dan membagikan informasi yang akurat dan berimbang. Menghargai pekerjaan dan usaha orang lain serta memberikan kontribusi yang berarti saat bekerja dalam tim. Bertanggung jawab dalam menjaga komitmen sosial, seperti berpartisipasi dalam kegiatan amal atau sukarelawan. Menjaga rahasia dan privasi orang lain dengan tidak menyebarkan informasi pribadi tanpa izin. Mengakui dan menghormati konsekuensi dari tindakan atau keputusan yang telah diambil. Bertanggung jawab dalam merawat dan menjaga kesejahteraan hewan peliharaan. Perilaku bertanggung jawab adalah salah satu bentuk perilaku terpuji yang penting untuk menjaga keteraturan, integritas, dan keberhasilan dalam kehidupan sehari-hari. Contoh Perilaku Terpuji Amanah dalam Kehidupan Sehari-hari Berikut adalah beberapa contoh perilaku terpuji amanah dalam kehidupan sehari-hari Menjaga dan merawat barang milik orang lain dengan baik ketika dipinjamkan. Menghormati dan menjaga kerahasiaan informasi pribadi yang diberikan oleh orang lain. Menjalankan tugas atau tanggung jawab yang diberikan dengan sungguh-sungguh dan penuh integritas. Mengelola keuangan dengan jujur dan bertanggung jawab, misalnya dalam membayar utang tepat waktu. Menjaga kepercayaan yang diberikan dengan tidak menyalahgunakan kepercayaan tersebut. Menjaga kejujuran dalam menjalankan bisnis atau transaksi ekonomi dengan tidak menipu atau melakukan praktik yang tidak etis. Menghormati janji dan komitmen yang telah diberikan kepada orang lain. Menjaga keabsahan dan keakuratan informasi yang disampaikan kepada orang lain. Mengelola kegiatan organisasi atau kelompok dengan transparansi dan keadilan. Bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip yang telah disepakati dalam suatu lembaga atau organisasi. Mengemban tanggung jawab kepemimpinan dengan adil, jujur, dan bertanggung jawab. Menjaga kepercayaan dalam hubungan personal, seperti menjaga rahasia dan melaksanakan komitmen yang telah diucapkan. Melaporkan dan mengungkapkan pelanggaran atau tindakan yang tidak etis yang terjadi di lingkungan kerja atau organisasi. Memiliki integritas yang tinggi dalam menjalankan pekerjaan atau tugas yang mengharuskan kejujuran dan kepercayaan. Tidak menyalahgunakan wewenang atau kekuasaan yang diberikan kepada kita. Menjaga profesionalisme dan etika kerja yang baik dalam lingkungan kerja. Menerapkan keadilan dalam mengambil keputusan yang berpengaruh pada orang lain. Menjalankan perjanjian atau kontrak dengan penuh kejujuran dan amanah. Membayar utang atau kewajiban finansial dengan tepat waktu dan sesuai kesepakatan. Menerima tanggung jawab atas kesalahan atau kegagalan yang telah dilakukan, tanpa mencari alasan atau menyalahkan orang lain. Perilaku amanah adalah perilaku terpuji yang melibatkan kejujuran, kepercayaan, dan tanggung jawab. Dengan menjalankan perilaku amanah, kita membentuk citra yang baik, memperkuat hubungan dengan orang lain, dan menjaga integritas dalam kehidupan sehari-hari. Contoh Perilaku Terpuji Suka Menolong Berikut adalah beberapa contoh perilaku terpuji suka menolong dalam kehidupan sehari-hari Membantu orang tua atau anggota keluarga dalam pekerjaan rumah tangga, seperti membersihkan rumah atau mencuci piring. Menawarkan bantuan kepada teman atau rekan kerja yang sedang mengalami kesulitan atau membutuhkan bantuan. Membantu mengangkat atau membawa barang berat bagi orang yang membutuhkan. Menolong orang yang sedang kesulitan mencari alamat atau arah jalan. Memberikan informasi atau petunjuk kepada orang yang membutuhkan, misalnya turis yang tersesat. Menawarkan tempat duduk kepada orang yang membutuhkan dalam transportasi umum. Membantu membawa barang belanjaan bagi orang tua atau lansia yang kesulitan. Menolong teman atau tetangga dalam memperbaiki peralatan rumah tangga yang rusak. Menyumbangkan pakaian atau barang-barang tidak terpakai kepada orang yang membutuhkan. Memberikan bantuan dalam mengajar atau membimbing teman atau adik dalam pelajaran atau keterampilan tertentu. Membantu merawat hewan peliharaan tetangga atau teman yang sedang pergi atau sakit. Menolong sesama pengguna jalan dalam kecelakaan atau keadaan darurat. Memberikan dukungan moral atau emosional kepada seseorang yang sedang mengalami kesedihan atau kesulitan. Menawarkan bantuan dalam mengurus anak-anak atau mengasuh adik saat orang tua sibuk atau tidak ada di rumah. Menolong tetangga yang sedang sakit atau lansia dalam melakukan tugas sehari-hari, seperti membeli kebutuhan atau membersihkan rumah. Mengulurkan tangan kepada orang yang sedang membutuhkan uang atau makanan. Membantu orang yang mengalami kesulitan dalam menggunakan teknologi atau perangkat elektronik. Menyediakan waktu untuk menjadi relawan dalam kegiatan sosial atau amal. Menyumbangkan darah atau menjadi pendonor organ untuk membantu orang yang membutuhkan. Membantu mengorganisir atau mendukung acara atau kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggal atau komunitas. Perilaku suka menolong adalah perilaku terpuji yang melibatkan kepedulian dan keterlibatan aktif dalam membantu orang lain. Dengan menjalankan perilaku ini, kita dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar dan membantu membangun hubungan yang lebih baik antara sesama manusia. Contoh Perilaku Terpuji Berbakti Kepada Orangtua Berikut adalah beberapa contoh perilaku terpuji berbakti kepada orangtua dalam kehidupan sehari-hari Menghormati dan menghargai orang tua dengan cara berbicara dengan sopan dan mengikuti etika yang tepat. Mendengarkan dengan penuh perhatian saat orang tua berbicara atau memberikan nasihat. Memberikan waktu dan perhatian yang cukup kepada orang tua, seperti menghabiskan waktu bersama atau mengobrol. Membantu orang tua dalam pekerjaan rumah tangga, seperti membersihkan rumah, mencuci piring, atau mengurus kebun. Menunjukkan rasa terima kasih dan mengungkapkan penghargaan kepada orang tua atas segala upaya dan pengorbanan mereka. Menyediakan dukungan finansial kepada orang tua jika diperlukan, seperti membantu dalam biaya hidup atau perawatan kesehatan. Mencarikan atau membelikan barang-barang yang dibutuhkan oleh orang tua, misalnya kebutuhan sehari-hari atau obat-obatan. Menghormati dan menghargai pendapat atau keputusan orang tua, meskipun ada perbedaan pendapat. Menghormati privasi dan memberikan ruang bagi orang tua untuk menjalani kehidupan mereka sendiri. Mengurus orang tua yang sakit atau rentan dengan memberikan perawatan dan perhatian ekstra. Mengajak orang tua untuk terlibat dalam kegiatan keluarga atau acara penting. Menyediakan sarana transportasi atau membantu orang tua dalam perjalanan atau kunjungan ke tempat lain. Membantu dalam mengurus atau menyusun keuangan orang tua, seperti membantu dalam pembayaran tagihan atau manajemen keuangan mereka. Menghormati tradisi dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh orang tua, serta mengajarkan dan meneruskan nilai-nilai tersebut kepada generasi selanjutnya. Membantu dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan orang tua, seperti membantu dalam menjaga pola makan yang sehat atau mengingatkan untuk minum obat secara teratur. Mengajak orang tua untuk terlibat dalam aktivitas fisik atau olahraga yang sesuai dengan kondisi mereka. Mengajak orang tua untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau komunitas yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Membantu dalam mengurus dokumen atau administrasi yang diperlukan oleh orang tua, seperti mengurus asuransi atau pensiun. Menghargai dan merayakan momen-momen penting dalam kehidupan orang tua, seperti ulang tahun atau hari pernikahan mereka. Mengucapkan kata-kata kasih sayang dan menyampaikan perasaan cinta kepada orang tua secara teratur. Perilaku berbakti kepada orang tua adalah perilaku terpuji yang melibatkan penghormatan, perhatian, dan dukungan kepada orang tua. Dengan menjalankan perilaku ini, kita dapat memperkuat hubungan keluarga, memberikan rasa nyaman dan bahagia kepada orang tua, serta memperlihatkan rasa terima kasih atas semua yang mereka berikan kepada kita selama hidup. Contoh Perilaku Terpuji Rendah Hati Berikut adalah beberapa contoh perilaku terpuji rendah hati dalam kehidupan sehari-hari Mengakui dan menghargai kontribusi orang lain dalam suatu tim atau proyek. Menerima kritik atau masukan dengan terbuka dan tanpa membela diri. Menghormati pendapat atau sudut pandang orang lain, meskipun berbeda dengan pendapat pribadi. Tidak meremehkan atau menganggap rendah prestasi atau keberhasilan orang lain. Mengucapkan terima kasih dan mengakui bantuan atau bimbingan yang diberikan oleh orang lain. Memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bersinar atau tampil di depan umum. Menunjukkan rasa hormat dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh saat berkomunikasi dengan orang lain. Menghindari keinginan untuk selalu menjadi pusat perhatian atau mendominasi pembicaraan. Menyadari dan mengakui bahwa kita tidak sempurna dan terus belajar dari orang lain. Menyumbangkan waktu atau sumber daya untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan pengakuan atau pujian. Tidak membanggakan diri atau merendahkan orang lain dengan pencapaian pribadi. Menghargai kerjasama dan kontribusi kolektif dalam mencapai tujuan bersama. Membantu orang lain untuk berkembang atau mencapai potensi terbaik mereka. Tidak memanfaatkan kedudukan atau kekuasaan untuk memperoleh keuntungan pribadi atau merendahkan orang lain. Menerima pujian atau penghargaan dengan rendah hati dan mengakui kontribusi orang lain dalam kesuksesan tersebut. Memberikan apresiasi dan penghargaan kepada orang lain atas prestasi atau keberhasilan mereka. Tidak menunjukkan sikap sombong atau angkuh terhadap kelebihan yang dimiliki. Mengakui bahwa kesalahan atau kegagalan adalah bagian dari pembelajaran dan kesempatan untuk tumbuh. Memberikan tempat bagi orang lain untuk menyatakan ide atau pendapat mereka tanpa interupsi atau penilaian negatif. Menghormati keberagaman dan mengakui nilai setiap individu tanpa merasa lebih baik dari orang lain. Perilaku rendah hati adalah perilaku terpuji yang melibatkan sikap rendah diri, penghargaan terhadap orang lain, dan sikap terbuka terhadap pembelajaran. Dengan menjalankan perilaku rendah hati, kita dapat membangun hubungan yang baik, memfasilitasi kerjasama yang harmonis, dan menciptakan lingkungan yang inklusif. Mengapa kita perlu menerapkan perilaku terpuji? Penerapan perilaku terpuji memiliki banyak manfaat dan pentingnya dalam kehidupan kita. Berikut adalah beberapa alasan mengapa kita perlu menerapkan perilaku terpuji Membangun hubungan yang baikPerilaku terpuji membantu membangun hubungan yang kuat dan harmonis dengan orang lain. Ketika kita bersikap jujur, menghormati, dan empati, kita membangun kepercayaan dan saling pengertian dalam interaksi sosial. Menciptakan lingkungan yang positifDengan menerapkan perilaku terpuji, kita ikut berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang positif di sekitar kita. Perilaku terpuji seperti kejujuran, kepedulian, dan kerjasama, dapat mendorong orang lain untuk mengadopsi perilaku yang sama, menciptakan atmosfer yang lebih baik. Meningkatkan kualitas diriPerilaku terpuji membantu kita tumbuh dan berkembang sebagai individu yang lebih baik. Dengan menjaga integritas, tanggung jawab, dan sikap disiplin, kita memperkuat karakter dan membangun kualitas pribadi yang positif. Menjaga keharmonisan sosialPerilaku terpuji membantu menjaga harmoni dalam masyarakat. Ketika setiap individu menerapkan perilaku yang baik, seperti menghargai perbedaan, menghindari konflik, dan berkomunikasi dengan baik, masyarakat menjadi lebih stabil dan damai. Menjaga moralitas dan etikaPerilaku terpuji didasarkan pada nilai-nilai moral dan etika yang diakui secara luas. Dengan menerapkan perilaku terpuji, kita menjaga integritas dan moralitas dalam tindakan kita, serta mempromosikan standar yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Memberikan contoh yang baikDengan menerapkan perilaku terpuji, kita menjadi contoh yang baik bagi orang lain, terutama generasi muda. Tindakan kita dapat mempengaruhi orang lain secara positif dan menginspirasi mereka untuk mengadopsi perilaku yang baik pula. Membangun kepercayaan dan reputasi yang baikPerilaku terpuji membantu membangun kepercayaan dan reputasi yang baik di mata orang lain. Ketika kita konsisten dengan perilaku terpuji, kita mendapatkan kepercayaan dan penghargaan dari orang lain, serta memperkuat citra positif kita. Menyumbangkan kebaikan bagi masyarakatDengan menerapkan perilaku terpuji, kita ikut berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Perilaku terpuji membawa manfaat bagi orang lain, serta mendorong perubahan sosial yang positif. Kesimpulannya, penerapan perilaku terpuji penting karena membantu membangun hubungan yang baik, menciptakan lingkungan positif, meningkatkan kualitas diri, menjaga keharmonisan sosial, menjaga moralitas dan etika, memberikan contoh yang baik, membangun kepercayaan dan reputasi yang baik, serta menyumbangkan kebaikan bagi masyarakat. Baca juga 20 Contoh Penerapan Bhineka Tunggal Ika dalam Kehidupan Sehari-hari Contoh Sikap Positif yang Mencerminkan Perwujudan Nilai Demokrasi Sesuai Dengan UUD 1945 Asas-Asas Kewarganegaraan dan Contohnya Pos terkait20 Contoh Perbuatan Baik dan Buruk di Sekolah10 Kerugian Letak Maritim Indonesia50 Contoh Sikap Baik di Rumah Yang Bisa DiterapkanDampak Positif dan Negatif Handphone untuk Anak di Era ModernManfaat Tata Tertib Sekolah Bagi Siswa dan Guru Perilaku terjadi melalui proses adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya sebagai keadaan jiwa untuk berpendapat, berpikir, dan bersikap yang merupakan gerakan dari berbagai aspek baik fisik maupun non fisik. Berperilaku yang baik bagi anak merupakan suatu hal yang paling penting yang wajib diberikan keluarga terutama orang tua dalam mengasuh anak, bila anak mempunyai perilaku yang baik akan membawa anak menuju rasa tentram dikemudian hari. Pola asuh orang tua mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan perilaku moral pada anak, karena dasar perilaku moral pertama diperoleh oleh anak dari dalam rumah yaitu orang tuanya. Menururt Baumrind ada empat macam bentuk pola asuh orang tua yang diterapkan oleh masing-masing orang tua, bentuk-bentuk pola asuh itu adalah pola asuh otoriter, pola asuh demokrasi, pola asuh penelantaran dan pola asuh permisif. Perbedaan pola asuh orang tua seperti ini dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi remaja, sebagai contoh cara memberi hukuman misalnya, kalau dulu anak dipukul karena nakal, pada masa remaja cara semacam itu justru dapat menimbulkan ketegangan yang lebih berat antara remaja dengan orang tuanya. Hukuman merupakan salah alat pendidikan represif. Alat ini memang bukan merupakan alat yang menjadi alternatif pertama dalam mendidik anak, karena sebelum menggunakan alat pendidikan ini harus terlebih dahulu menggunakan alat lain seperti nasihat dan teladan. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 304 PENINGKATAN PERILAKU TERPUJI SISWA MELALUI PENERAPAN HUKUMAN DAN POLA ASUH ORANG TUA SISWA MUHAMAD JAMI RUSMAN Sekolah Dasar Negeri Karang Tengah 9 Kota Tangerang Jamirusman1883 ABSTRAK Perilaku terjadi melalui proses adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya sebagai keadaan jiwa untuk berpendapat, berpikir, dan bersikap yang merupakan gerakan dari berbagai aspek baik fisik maupun non fisik. Berperilaku yang baik bagi anak merupakan suatu hal yang paling penting yang wajib diberikan keluarga terutama orang tua dalam mengasuh anak, bila anak mempunyai perilaku yang baik akan membawa anak menuju rasa tentram dikemudian hari. Pola asuh orang tua mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan perilaku moral pada anak, karena dasar perilaku moral pertama diperoleh oleh anak dari dalam rumah yaitu orang tuanya. Menururt Baumrind ada empat macam bentuk pola asuh orang tua yang diterapkan oleh masing-masing orang tua, bentuk-bentuk pola asuh itu adalah pola asuh otoriter, pola asuh demokrasi, pola asuh penelantaran dan pola asuh permisif. Perbedaan pola asuh orang tua seperti ini dapat berpengaruh terhadap perbedaan perkembangan emosi remaja, sebagai contoh cara memberi hukuman misalnya, kalau dulu anak dipukul karena nakal, pada masa remaja cara semacam itu justru dapat menimbulkan ketegangan yang lebih berat antara remaja dengan orang tuanya. Hukuman merupakan salah alat pendidikan represif. Alat ini memang bukan merupakan alat yang menjadi alternatif pertama dalam mendidik anak, karena sebelum menggunakan alat pendidikan ini harus terlebih dahulu menggunakan alat lain seperti nasihat dan teladan. Kata Kunci Perilaku Terpuji Siswa dan Penerapan Hukuman ABSTRACT Behavior occurs through the process of interaction between the individual and his environment as a state of mind to think, think, and behave which is a movement from various aspects both physical and non-physical. Good behavior for children is the most important thing that must be given by the family, especially parents in caring for children, if the child has good behavior will bring the child to feel at ease in the future. Parenting parents have a very important role for the development of moral behavior in children, because the basic moral behavior is first obtained by the child from home, namely his parents. According to Baumrind, there are four types of parenting practices applied by each parent, the forms of parenting are authoritarian parenting, democratic parenting, neglect parenting and permissive parenting. Differences in parenting parents like this can affect differences in adolescent emotional development, for example how to give punishment for example, if the child was beaten for being naughty in the past, during adolescence such a method can actually cause more severe tension between adolescents and their parents. Punishment is a repressive educational tool. This tool is indeed not the first alternative tool in educating children, because before using this educational tool must first use other tools such as advice and example. Keywords Student Praiseworthy Behavior and Application of Punishment ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 305 A. PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar, terus menerus, terarah dan berkesinambungan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, tujuan pendidikan merupakan faktor utama yang harus diperhatikan, disadari dan dijadikan sasaran oleh setiap pendidik yang melaksanakan kegiatan pendidikan. Pendidikan merupakan sarana yang dibutuhkan untuk pengembangan kehidupan manusia. Maka dari itu pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan generasi yang sejalan dengan tuntutan kemajuan mayarakat dan bangsanya. Pendidikan mempunyai banyak arti. Emile Durkheim mendefinisikan pendidikan sebagai pengaruh yang dilaksanakan oleh orang dewasa atas generasi yang belum matang untuk penghidupan sebagai suatu pembentukan watak/kepribadian, juga harus dapat mempersiapkan sumber daya yang handal, terutama dalam memasuki abad ke-21, yang merupakan era persaingan bebas globalisasi yang menuntut ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dalam tatanan global. Sejalan dengan hal tersebut maka menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab II pasal 3 menyebutkan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, tujuan untuk berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung Nasional yang berdasarkan atas Pancasila dan bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Peranan pendidikan sangatlah penting sebagai usaha membangun manusia yang berkualitas yang dilandasi dengan peningkatan kecerdasan, pengetahuan, sikap dan keterampilan. Proses pendidikan diawali ketika individu dilahirkan dilanjutkan dengan Penerapan Pola Asuh Orang Tua dalam lingkungan keluarga kemudian dilanjutkan dan dikembangkan melalui jenjang pendidikan formal, terstruktur dan sistematis dalam lingkungan sekolah. Pola Asuh Orang Tua adalah kemampuan dan kesiapan orang tua memberi contoh serta membantu, mendidik, mengawasi dan memimpin anak agar anak dapat berdiri sendiri dan juga orang tua dapat memperbaiki kehidupan anak yang kurang baik sehingga menjadi baik. Pola Emile Durkheim, Pendidikan Moral Suatu Studi teori dan aplikasi sosiologi pendidikan, terjemah oleh Lukas Ginting Jakarta Erlangga, 1990, 2-3 Undang-undang Sisdiknas Sistem Pendidikan Nasional Jakarta Sinar Grafika, 2003, 5-6. ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 306 asuh orang tua dengan anak berdisiplin diri dimaksudkan sebagai upaya orang tua dalam meletakan dasar-dasar disiplin kepada anak dan membantu pengembangannya sehingga anak memiliki disiplin Asuh Orang Tua mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan perilaku moral pada anak, karena dasar perilaku moral pertama diperoleh oleh anak dari dalam rumah yaitu Pola Asuh Orang Tuanya. Proses pengembangan melalui pendidikan disekolah tinggal hanya melanjutkan perkembangan yang sudah ada. Menurut Chatib Thoha yang mengemukakan bahwa Pola Asuh Orang Tua adalah suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada orang tua berkewajiban untuk mengasuh dan mendidik anaknya, sebagai contoh, bagaimana sikap atau perilaku orang tua dalam menerapkan aturan, mengajarkan nilai/norma, mem-berikan perhatian dan kasih sayang serta menunjukan sikap dan perilaku yang baik sehingga dijadikan contoh/model bagi anaknya. Casmini menyatakan bahwa gaya pengasuhan orang tua meliputi authorian, authoritative, dan permissive yang didalamnya terdapat praktek-praktek pengasuhan yang mendeskripsikan bagaimana orang tua memberikan dan meperlakukan anak yang terdiri dari peraturan, hukuman, hadiah, kontrol dan komunikasi. Pengasuhan authoritarian merupakan pengasuhan dimana orang tua suka memaksa anak-anaknya untuk patuh terhadap aturan-aturan, berusaha membentuk tingkah laku serta cenderung mengekang keinginan anak. Orang tua tidak mendorong untuk mandiri, jarang memberi pujian, hak anak sangat dibatasi tetapi dituntut mempunyai tanggung jawab sebagimana halnya orang dewasa. Anak harus tunduk dan patuh pada orang tua. Pengontrolan tingkah laku anak sangat ketat, sering menghukum anak dengan hukuman fisik, serta orang tua terlalu banyak mengatur kehidupan anak. Pengasuhan authoritative adalah pengasuhan dimana orang tua selalu memberikan alasan kepada anak saat bertindak, mendorong untuk saling membantu dan bertindak secara objektif. Orang tua cenderung tegas tetapi hangat dan penuh perhatian sehingga anak tampak ramah, kreatif dan percaya diri, mandiri dan bahagia serta memiliki rasa tanggung jawab sosial. Orang tua bersikap bebas atau longgar namun masih dalam batas-batas normatif. Pengasuhan permissive memberikan kebebasan kepada anak seluas mungkin dan sangat longgar. Anak mendapat kebebasan mengatur dirinya sendiri. Tidak ada tuntutan bagi anak untuk belajar bertanggung lingkungan keluarga orang tua sebagai pendidik di dalam keluarga memegang peranan yang sangat esensial dan strategis karena semua Schohib, Pola Asuh Orang Tua Dalam Membantu Anak Mengembangkan Disiplin Diri Jakarta Rineka Cipta, 2001, 16. Chaotib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam Yogyakarta Pustaka Pelajar, 2003, 109. Casmini, Emotional Parenting Dasar-dasar Pengasuhan Kecerdasan Emosi Anak Yogyakarta Pilar Media, 2007, 7. ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 307 perilaku orang tua dalam pola asuhannya akan dijadikan model anak-anaknya dan pada gilirannya anak dalam mengidentifikasi segala sesuatunya. Sedangkan strategis dimaksudkan karena kepemimpinannya orang tua yang diterima oleh anak akan berdampak secara berarti bagi perkembangan psikologis anak. Orang tua menjadi pendidik pertama dan utama bagi pendidikan anak terutama dalam penanaman keimanan, dan keimanan tersebut sangat diperlukan oleh anak sebagai landasan bagi akhlak upaya pencapaian tujuan pendidikan, salah satu hal yang diperlukan adalah alat pendidikan. Dalam proses pendidikan, alat pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena tanpa alat pendidikan seperti bangunan sekolah, papan tulis, buku, tata tertib, hukuman dan sebagainya, maka sudah bisa dipastikan proses belajar mengajar di sekolah akan terganggu karena kurangnya fasilitas yang mendukung. Hukuman dapat diartikan sebagai penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang orang tua, guru, dan sebagainya sesudah terjadi suatu pelanggaran, kejahatan atau kesalahan, atau dengan kata lain suatu perbuatan yang tidak menyenangkan dari orang yang lebih tinggi kedudukannya untuk pelanggaran dan kejahatan, dengan maksud memperbaiki kesalahan anak, bukan untuk mendendam. Dengan demikian, pemberlakuan hukuman dalam mendidik anak tidak terhenti pada hukuman itu sendiri, melainkan pada tujuan yang ada dibelakangnya, yaitu agar manusia yang melanggar itu insyaf, bertaubat, dan kembali menjadi orang yang berperilaku lebih baik. Dengan adanya sanksi atau hukuman diharapkan anak akan lebih patuh terhadap suatu peraturan, dan anak akan merasa takut untuk me-lakukan pelanggaran dan sebagainya. Penerapan sanksi dan hukuman tersebut, menurut S. Nasution merupakan salah satu tujuan pendidikan, yaitu melakukan perubahan kelakuan dan sikap anak didik seperti yang diharapkan hukuman adalah tindakkan yang dijatuhkan kepada anak secara sadar dan sengaja sehingga menimbulkan nestapa. Dan dengan adanya nestapa itu anak menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji dalam hatinya untuk tidak biasa dikenal dengan nama Azab, kata Azab didalam Al-Qur’an diulang sebanyak 373 kali. Jumlah yang banyak ini menunjukan perhatian Al-Qur’an yang amat besar terhadap masalah hukuman ini, dan meminta perhatian umat manusia. Selanjutnya didalam Al-Qur’an mengenai hukuman, misalnya dapat dijumpai dalam surat An-Nur ayat 2 Ahmad Tafsir, Pendidikan Anak dalam Keluarga Bandung Remaja Rosdakarya, 1996, 8. Badudu dan Sutan Muhammad Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia Jakarta Pustaka Sinar Harapan, 1996, 520. Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Jakarta Rineka Cipta, 1996, 37. S. Nasution, Sosiologi Pendidikan Jakarta Bumi Aksara, 1995, 10. Amin Daten Indra Kusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan Surabaya Usaha Nasiaonal, 1999, 147. ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 308 ➔◆ ◆ →⬧  ◼◆ ☺ ⬧⬧ ⧫  ◆ ➔⬧ ☺ ⬧◆      ⧫❑⬧➔  ❑◆◆   ◆◆ ☺◆⧫ ⬧  ⧫✓⬧☺  “perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” Ayat ini memberikan penjelasan tentang pemberian hukuman kepada laki-laki dan perempuan yang melakukan perzinahan, dengan cara didera atau dicambuk sebanyak seratus kali cambukkan dan jangan berbelas kasihan terhadap orang yang melakukan perzinahan. Hukuman merupakan produk dari sistem otoriter. Pemberian hukuman tidak mendidik anak-anaknya untuk bersikap percaya diri, disiplin pribadi, dan kesadaran terhadap diri sendiri juga tidak mendorong keberanian anak untuk ikut berperan atau bersikap kreatif, karena dengan hukuman, orang tua menekan daya kreativitas anak yang sedang berkembang. Anak tidak akan berani mencoba, dan ia tidak akan mengembangkan kemampuan untuk melakukan sesuatu karena tidak mendapatkan kesempatan mencoba. Juga anak akan kehilangan spontanitas, dan tidak dapat mencetuskan ide-ide baru. Ia merasa tidak dapat mengimbangi teman-temannya dalam segala hal, sehingga anak menjadi pasif dalam bergaul. Lama kelamaan ia aka mempunyai perasaan rendah diri dan akan kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Jika seorang anak mendapat hukuman di sekolah, dan ia tidak bisa menerima hukuman tersebut dengan nyaman, maka hal tersebut akan berdampak buruk terhadap kecintaan dia kepada sekolah, teman dan para guru. Dan itu akan mendorong anak untuk mengakhiri memutus hubungan positif dengan orang-orang tersebut. Selanjut-nya, akan tumbuh dalam jiwa akan berhubungan yang buruk dengan mereka, yaitu perasaan merasa kurang dapat kasih sayang dan merasa “terpencil” secara sosial. Dan jika hal ini terjadi, semuanya itu akan mendorong mereka untuk menjalin pergaulan dengan teman-temannya yang tidak baik yang bernasib sama kemudian mereka akan membuat aliansi itu dengan cara saling mencintai dan saling membuka rahasia diantara mereka. Penerapan hukuman juga diterapkan Pada lembaga pendidikan MAN 10 joglo Jakarta Barat, aturan yang diterapkan oleh pihak ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 309 sekolah antara lain adalah mewajibkan bagi setiap siswi dan siswa untuk memasukkan baju seragam mereka ke dalam rok atau celana dan wajib pula memakai dasi bagi siswa atau siswi, hukuman bagi mereka yang melanggar biasanya langsung ditegur di tempat dan langsung memerintahkan mereka untuk merapikan pakaian mereka. Lain daripada itu sekolah juga maih banyak dihadapkan dengan beberapa perilaku siswa yang masih sering membolos sekolah, menyontek saat ulangan, merokok dan lain sebagainya. Oleh karena itu, lingkungan keluarga atau orang tua dirumah mempunyai andil juga dalam memperbaiki karakter mereka. Gejala-gejala yang diperlihatkan oleh siswa-siswa tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri siswa dan faktor-faktor yang berasal dari luar dirinya. Kedua faktor itu dapat berpengaruh terhadap perilaku siswa. Dengan latar belakang yang telah disebutkan di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana Penerapan Hukuman dalam merubah perilaku siswa menjadi lebih baik atau minimal siswa tidak melanggar peraturan yang telah dibuat oleh pihak sekolah, dan apakah sejauh ini siswa menganggap Penerapan Hukuman sangat berpengaruh dengan Perilaku Siswa atau malah sebaliknya dan penelitian ini juga akan meneliti bagaimana Orang Tua Siswa dalam menerapkan Pola Asuh. Maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti tentang Pengaruh Penerapan Hukuman dan Pola Asuh Orang Tua terhadap Perilaku Siswa Madarsah Aliyah Negeri 10 Jakarta. B. METODE PENELITIAN Metode penelitian dapat diartikan dalam arti yang luas sebagai cara ilmiah, pada penelitian bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai macam metode. Pada penelitian ini penulis menggunakan metode survai dengan pendekatan korelasional. Metode Penelitian dalam pengertian yang luas dapat diartikan sebagai cara ilmiah, untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Sugiyono mengemukakan bahwa ada empat kata kunci yang perlu diperhatikan dalam menjelaskan metode penelitian, yaitu cara ilmiah yang berarti kegiatan penelitian itu dilakukan berdasarkan pada karakteristik keilmuan, yakni rasional, emparis dan sistematis. Rasional yang berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris, yakni cara-caraa yang dilakukan dalam penelitian dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematis, artinya proses yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis. Walaupun langkah-langkah penelitian antara metode kuantitatif, kualitatif dan Research and Developement R&D berbeda, akan tetapi seluruhnya sistematis. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, 117. ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 310 Metode survai dipergunakan dengan pertimbangan-pertimbangan bahwa penelitian dilakukan untuk mendapatkan data setiap variabel masalah penelitian dari tempat tertentu yang alamiah bukan buatan dengan alat pengumpul data berbentuk angket kuesioner, test dan wawancara terstruktur dan berdasarkan pandangan dari sumber data, bukan dari peneliti. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi atau penelitiannya juga disebut studi populasi atau studi sensus. Adapun populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MAN 10 Jakarta. C. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengujian hipotesis sebagaimana telah diuraikan, maka secara keseluruhan temuan dalam penelitian ini, dapat dibahas dengan cara mengkonfirmasi terhadap teori-teori yang sudah ada, sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II, jadi dalam pembahasan penelitian ini akan diuraikan hasil temuan penelitian dan menguraikan hasil uji hipotesis beserta teori-teori yang telah diungkapkan sebelumnya. Dari hasil analisis deskriptif variabel penelitian variabel Perilaku Siswa dilihat dari skor rata-rata Perilaku Siswa yaitu 138,83 atau sama dengan 138,83150 X 100% = % dari skor idealnya yaitu 150. Data ini dapat ditafsirkan sebagai tingkat atau taraf perkembangan variabel tersebut dengan kriteria sebagai berikut. Pada kriteria taraf sangat tinggi sebesar 92,55%, hal ini menunjukkan bahwa pentingnya meningkatkan perilaku terpuji siswa baik dilingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Untuk variabel Penerapan Hukuman di lihat dari skor rata-rata yaitu 141,53 atau sama dengan 141,53150 X 100% = 94,35% dari skor idealnya yaitu 150, pada kriteria taraf sangat tinggi sebesar 94,35%. Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya Penerapan Hukuman baik di lingkungan sekolah atau lingkungan keluarga. Sedangkan variabel Pola Asuh Orang Tua dilihat dari skor rata-rata Pola Asuh Orang Tua yaitu 139,34 atau sama dengan 139,34150 X 100% = 92,89% dari skor idealnya yaitu 150, pada kriteria taraf sangat tinggi sebesar 92,89%, hal ini menunjukkan bahwa Pola Asuh Orang Tua yang sesuai dengan tuntunan agama dapat mempengaruhi akan perilaku anak. Sedangkan pada hasil uji persyaratan hipotesis penelitian telah terpenuhi, yakni uji linieritas persamaan regresi Ŷ atas X1 dengan hasil P Sig = 0,315 > 0,05 5% atau Fhitung = 1,113 dan Ftabel dengan dk pembilang 46 dan dk penyebut 69 dan pada taraf kepercayaan signifikansi α = 0,05 adalah Fhitung 1,113 0,05 5% atau Fhitung = 0,426 dan Ftabel dengan Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Jakarta Rineka Cipta, 2002, 108. ANDRAGOGI JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, VOL 1, NO. 2 TAHUN 2019 Magister Manajemen Pendidikan Islam Institut PTIQ Jakarta 311 dk pembilang 20 dan dk penyebut 95 dan pada taraf kepercayaan signifikansi α = 0,05 adalah 1,65 Fhitung 0,426 0,05 5% atau Zhitung dan Ztabel pada taraf kepercayaan/signifikansi α = 0,05 adalah 1,645 Zhitung

perilaku terpuji terhadap orang tua